Mistikisasi Tanggal Lahir

Siapa yang tak kenal dan hafal lagu Happy Birtday to you? Anak TK pun tahu, yang telah tua pun ‘tak sempat’ lupa saking seringnya lagu itu dilantunkan. Bahkan secuil lagu asa Chichago itu dalam tahun 80an, diklaim telah mengumpulkan sekitar $1 juta dalam bentuk royalty tahunan. Ada pula lagu ‘panjang umurnya’ yang ngetren di nusantara, yang aslinya peninggalan Belanda berjudul ’Lang Zal Die Leven’.

                Sebagian kaum muslimin melakukan hal yang sama dengan anggapan bahwa hal itu semata-mata adat, budaya, atau dalam istilah arabnya ‘urf, bukan masalah akidah ataupun fiqil yang sudah pakem. Sehingga dianggap boleh dan sah-sah saja.

                Padahal, perayaan itu tidak bisa dielakkan dari perkara akidah. Faktanya tanggal lahir di banyak keyakinan diklaim memiliki nilai mistik yang sacral. Kit6a kenal istilah ‘Shio’ dari China, ‘Zodiak’ dari Barat, dan ‘Weton’ dari Jawa. Masing-masing penganutnya memiliki tafsir tersendiri dalam meramal perwatakan dan nasib berdasarkan tanggal lahir. Sekaligus mareka juga memiliki jurus yang diyakini  bisa menghindar diri dari nasib  sial yang disebabkan tanggal lahir itu. Namun ada satu yang mereka sepakati bahwa ritual dihari ulang tahun adalah satu cara yang diyakini bisa menghilangkan nasib sial itu. Jadi, mengistimewakan tanggal lahir bukan semata-mata ‘urf biasa, tapi masuk dalam ranah akidah. Sementara semua keyakinan tersebut hanyalah khurafat dan takhayul ditinjau dari akidah islam.

                Mungkin, sebagian berkilah, “ Toh saya tidak punya keyakinan seperti itu !” Kalau memang tidak memiliki keyakinan seperti mereka, mengapa mengikuti tradisinhya ? selayaknya seorang mukmin memiliki landasan dan alas an dalam setiap kata dan perbuatan, karena Allah berfirman, “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjwabannya.” (QS. Al-Isra’:36)

                Abu Waqid Al-Laitsi ra menuturkan, “ Suatu saat kami pergi keluar bersama Rasulullah SAW ke Hunain, sedang kami dalam keadaan baru saja masuk islam. Kemudian kami melewati  sebuah pohon milik orang-orang musyrik yang dinamakan Dzatu Anwath, mereka lalu mendatanginya dan menggantungkan senjata-senjata perang mereka pada pohon itu untuk mencari berkah. Kami pun berkata :” Ya Rasulullah buatkanlah untuk kami Dzatu Anwath sebagaimana Dzatu Anwath mereka.” Maka Rasulullah bersabda : “Allahu Akbar, itulah tradisi (orang-orang sebelum kamu). Dan demi Allah yang diriku hanya berada di Tangan-Nya, ucapan kalian seperti perkataan Bani Israil kepada Musa, ‘ Buatkanlah untuk kami sesembahan sebagimana Tuhan orang-orang  itu. ‘Musa menjawab , ‘Sungguh, kamu adalah kaum yang tidak mengerti.’” Beliau bersabda lagi, “ Sungguh kalian akan mengikuti tradisi orang-orang sebelum kamu ( yahudi dan Nasrani).” (HR Tirmidzi)

                Nabi SAW tidak mengiyakan dengan memberikan catatan “ yang penting jangan untuk ngalap berkah” atau “ silakan membuat seperti itu tapi jangan memiliki keyakinan seperti mereka !”. Tidak. Bahkan  beliau mengingatkan dengan keras keinginan untuk mengikuti tradisi itu. Wallahu’alam.

(Abu Umar Abdillah)

Posted on 19 Agustus 2011, in Islami, motivasi. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: